Jakarta– AI adalah Artificial Intelligence (Kecerdasan Buatan), teknologi yang dikembangkan untuk membuat komputer atau mesin yang dapat meniru kemampuan manusia dalam berpikir, belajar merencanakan, beradaptasi dan memecahkan  masalah.

Inti dari AI adalah berkembang algoritma  dan sistem  komputasi  yang dapat  memproses data dengan cara meniru pola kerja otak manusia dalam memproses informasi. Dalam  penerapan  di  dunia  nyata,  AI  saat ini berbagai  bidang  seperti  kesehatan,  otomotif keamanan  industri,  pemerintahan,  dan  sebagainya. Beberapa  contoh  penerapan  AI diantara sistem  deteksi,  pengenalan  wajah,  chatbot  diagnosis bedasarkan  gejala,  sistem  pengendalian  mesin dan masih  banyak  lagi .

Pada  umumnya,  pengembangan  AI  dapat  dilakukan  dengan  beberapa  metode  seperti  pengembangan  sistem  rule-based  yang  didasarkan  pada  aturan  yang  telah  berkembang sistem  berbasis  pembelajaran  mesin  yang  mempelajari  data  dengan  statistik,  serta  pengembangan  sistem  berbasis dan syaraf  tiruan  yang  mengenali  pola  dan  kategori  data-data  tertentu.

Menggunakan  AI  memberikan  banyak  manfaat,  namun  juga  menimbulkan  beberapa kewaspadaan. Beberapa  kekhawatiran  utama  adalah  adanya  kemiskinan  karena  lapangan pekerjaan  yang ada  dapat diperoleh  diambil  alih  oleh  mesin dan  keamanan  data. Karena penggunaan  yang  berlebihan  atau  Kecanduan  terhadap  AI  . Oleh  karena itu  itu,  penting bagi  pengembangan masalah ini dan mengambil  tindakan  untuk itu  mencegahnya.

Berikut merupakan jenis-jenis AI!

  1.  Artificial Narrow Intelligence (ANI)

Salah satu  jenis  kecerdasan  buatan  (AI)  yang  dirancang  untuk  menyelesaikan  tugas-tugas  tertentu. ANI terbatas  pada  satu  tugas  atau pengetahuan  area   tertentu  dan  hanya  dapat  mengeksekusi  tugas  yang  telah  diprogram untuk  dilakukan. 

Contohnya  adalah  yang  dirancang  untuk  menjawab  pertanyaan- pertanyan  tertentu  dengan  menggunakan  model  bahasa  alami  atau  algoritma  mesin  .  ANI  ini  tidak dapat  melakukan  tugas-tugas  lain  tugas yang  berada  di  luar  tugas   atau  area  pengetahuan  yang  telah  ditentukan

Satu  contoh  sistem  AI  yang  menggunakan  ANI  adalah  Siri,  asisten  virtual  yang  digunakan  pada  iPhone,  iPad,  dan  Mac. Siri  memiliki  kemampuan  suara  dan  memberikan  respon  sesuai  dengan  permintaan  pengguna.  Namun, apa  yang dilakukan  tugas-tugas  yang  melampaui  batas  pengetahuan  dan  kemampuan  yang  telah  diprogram.

  1. Artificial General Intelligence (AGI)

Kecerdasan  Umum Buatan (AGI) adalah jenis kecerdasan  buatan  yang  mampu  melakukannya  tugas  intelektual  secara  umum  dan  fleksibel  seperti  manusia. AGI  dapat  belajar  secara online  mandiri  dan  dapat  menyelesaikan  masalah  pada  berbagai  bidang,  termasuk  bidang  yang  belum  diketahui  sebelumnya.  

AGI  memiliki  kemampuan  untuk  memahami  dan  memanfaatkan  konteks,  melakukan  inferensi ,  dan  membuat  keputusan  yang  kompleks. Saat  ini,  AGI  masih  bersifat  kontekstual  dan  belum  sepenuhnya  dapat diperoleh  direalisasikan.

Contohnya adalah Sofia, Robot Sosial Humanoid yang dikembangkan oleh Hanson Robotika. Sofia didesain untuk menjadi lebih dari sederhananya sebuah robot. Dilengkapi dengan kemampuan untuk berinteraksi dengan manusia, mengenali wajah dan meniru ekspresi manusia dengan teknologi, misalnya kamera dan algoritma kecerdasan buatan yang digunakan untuk memprogramnya. 

Sofia dianggap sebagai salah satu contoh terbaik dari AGI, sebab kemampuan yang dapat memahami dan berinteraksi dengan lingkungan manusia secara luas dan kompleks. Sofia dapat berbicara dengan manusia pada beberapa bahasa termasuk bahasa Indonesia, dan salah satu kemampuan yang pagar terkenal adalah kemampuan untuk merespons pertanyaan dengan jawaban yang logistik dan diukur.

  1. Artificial Superintelligence (ASI)

Artificial Superintelligence (ASI) merupakan tingkat tertinggi dari kecerdasan buatan. ASI mengacu pada kecerdasan buatan yang melebihi kemampuan pikiran manusia dan mampu memproses data secara ya lebih cepat dan efisien. ASI memiliki potensi untuk merancang dan mengembangkan teknologi baru, menemukan solusi yang sebelumnya tidak kaku untuk masalah-masalah yang kompleks, dan mencapai tujuan-tujuan yang belum pernah dicapai sebelumnya. Namun, ASI juga memiliki risiko yang sangat besar jika terus berkembang dan tidak terkendali.

Contoh Palsu Kecerdasan super (ASI) dapat berpada berupa perangkat lunak AI yang mampu menghasilkan berpikir dan tindakan yang jauh berlaku kemampuan manusiasemuanya aspek misalnya Google Deep Mind, AlphaGo, atau Chat GPT. ASI berkemampuan untuk belajar sendiri dan mampu memutuskan apa yang seharusnya dilkukan dalam situasi yang belum pernah menghadap sebelumnya. ASI dapat memecahkan masalah yang kompleks dan membuat prediksi yang tepat. Potensi kemampuan kecerdasan AI jenis ini sangat besar, sehingga memerlukan regulasi yang ketat agar-agar tidak menimbulkan masalah keamanan di masa depan.

  1. Theory of Mind

Theory of Mind (ToM) adalah konsep yang terkait dengan kemampuan manusia untuk memahami dengan, kepercayaan, niat, dan emosi orang lain. Dalam Palsu Intelijen (AI), ToM tentang kemampuan mesin untuk menafsirkan sebuah dan mengantisipasi kepercayaan, niat, dan emosi manusia untuk  melakukan  interaksi  sosial  yang  lebih  alami  dan  efektif. 

Penerapan ToM dalam algoritma mesin yang belajar perilaku manusia, menggunakan data dari sensor dan sumber lainnya. Algoritma ini kemudian menghasilkan model mental yang mencoba memprediksi apa yang berpikir atau dirasakan oleh orang lain dalam lingkungan sosial tertentu. Model mental ini digunakan oleh sistem untuk menghasilkan tanggapan yang lebih kontekstual dan manusiawi dalam interaksi dengan orang lain.

Contohnya, sebuah chatbot yang dilengkapi dengan ToM dapat mengakui  ketika seseorang sedang frustrasi  atau  sedang merasa senang, dan memberikan tanggapan yang sesuai dengan kondisi Al tersebut. Kemampuan misalnya ini akan membantu  AI untuk lebih efektif dalam berinteraksi dengan manusia dan memberikan solusi yang lebih baik. 

Contoh lain adalah sebuah robot pendamping yang dapat membaca bahasa tubuh manusia dan mengidentifikasi emosi yang sedang dialami, sehingga dapat merespons dengan cara yang lebih manusiawi dan membangun hubungan yang lebih  baik  dengan  manusia.

Penerapan ToM dalam AI bertujuan agar-agar mesin dapat lebih memahami kebutuhan pengguna, menghasilkan pengalaman pengguna yang lebih baik dan interaksi sosial yang lebih alami dan efektif.

  1. Self-aware

Self-aware dalam  AI  mengacu  pada  kemampuan  sebuah  sistem  AI  untuk  memiliki  pemahaman  tentang  keberadaannya  sendiri,  misalnya  pemahaman  tentang  kemampuan dan  keterbatasannya,  serta  pemahaman  tentang  lingkungan  sekitar  dan  pengaruhnya  terhadap  sistem.

Dalam  konteks  AI,  Self-aware  dapat  dicapai melalui  algoritma  yang  memungkinkan  sistem  untuk  menyatu  dan  menganalisis  kinerjanya  sendiri,  memperbaiki  dirinya  sendiri, bahkan  mengambil untuk  memperbaiki  atau  meningkatkan  kemampuan  dan  kinerjanya.

Self-aware  juga  dapat  membantu  sistem  AI  untuk  menghindari  kesalahan, karena  sistem  tersebut  memiliki  pemahaman  yang  lebih  dalam  tentang  dirinya  sendiri  dan  lingkungannya  sekitarnya. Dalam kesadaran  menjadi  salah satu kunci untuk menciptakan sistem AI yang lebih cerdas  dan  dapat beradaptasi  dengan  cepat  menuju  perubahan.

Contohnya seperti : Siri, Alexa dan Google Asisten yang menggunakan teknologi Self-aware untuk memahami perintah yang diberikan oleh pengguna. AI ini mampu menilai dan memahami konteks dari perintah yang diberikan dan  menyesuaikan  responnya  untuk  memberikan  solusi  pada  penggunanya.

Secara kesimpulan, AI atau kecerdasan buatan telah membawa banyak manfaat bagi manusia di berbagai bidang, seperti kesehatan, pendidikan, bisnis, dan lain-lain. Namun, penggunaan AI juga memunculkan beberapa tantangan, seperti masalah privasi dan keamanan data pengguna, kesenjangan dalam pemerataan penggunaan teknologi, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, diperlukan kerjasama antara berbagai pihak, baik dari sektor publik maupun swasta, untuk mengembangkan teknologi AI yang berkualitas dan dapat memberikan kemanfaatan bagi kepentingan bersama. Selain itu, perlu juga adanya regulasi yang jelas dan terukur agar keberadaan AI dapat diawasi dan dijalankan secara etis.

AI memang belum sepenuhnya sempurna dan masih dalam tahap pengembangan, namun potensi yang dimilikinya sangat besar bagi perkembangan manusia dan memungkinkan kita untuk meraih kemajuan yang lebih besar lagi di masa depan.