New Normal Dunia Pendidikan. Bagaimana Mempersiapkannya?
Melalui IG Live Diginusa yaitu #Ngobrolonline bareng Pak Anddy Steven, kami membahas tentang bentuk new normal dalam dunia pendidikan dan strategi yang harus dipersiapkan oleh sekolah. Namun, akibat kendala teknis, diskusi IG Live dilanjutkan melalui Google meets dan wawancara eksklusif dengan Pak Anddy melalui Zoom. Diskusi tersebut akan dirangkumkan sebagai berikut
Seperti apa bentuk new normal dalam dunia pendidikan?
New normal merupakan keadaan dimana kita dapat beraktivitas kembali tetapi ada protokol tambahan yang kemudian membentuk sebuah pola hidup baru dan kita harus beradaptasi dengan pola hidup tersebut. Dunia pendidikan juga memiliki new normalnya sendiri yaitu fleksibilitas pembelajaran. Bentuk fleksibilitas ini seperti
-
Mampu bernavigasi
-
Pola pendekatan pengajaran
-
Ragam pilihan pendekatan kepada murid
-
Kenyamanan dan orientasi pada kebutuhan murid
Keempat hal tersebut merupakan gambaran bentuk new normal dunia pendidikan.
Mampu Bernavigasi
Penggunaan Learning Management System akan menjadi salah satu navigasi dalam menjalankan normal baru pendidikan. Ada banyak LMS yang dapat digunakan oleh sekolah dan pemilihan LMS tersebut disesuaikan dengan kebutuhan sekolah.
Pola Pendekatan Pengajaran
Pola pendekatan yang pada umumnya secara tatap muka langsung, kini terhalang dengan adanya pandemi Covid-19. Oleh sebab itu, pendekatan pengajaran harus menggunakan teknologi. Ranah teknologi tidak hanya sebatas akses internet tetapi sekolah juga bisa memanfaatkan Radio sebagai salah satu alat bantu pembelajaran. Sekolah dapat bekerja sama dengan stasiun-stasiun Radio untuk membantu menyampaikan materi-materi pelajaran.
Normal baru ini juga akan membentuk perubahan-perubahan lanjutan sehingga sekolah harus mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan terburuk.
Bagaimana menjalankan fleksibilitas sementara masih harus ada RPP yang diselesaikan?
Dalam kondisi seperti ini, hal yang utama adalah mementingkan kepentingan siswa. Tujuan utama dari proses pembelajaran adalah siswa itu sendiri. Sekolah harus bisa melihat bahwa saat ini tidak dapat mengacu pada ketuntasan RPP karena dapat menjadi sebuah momok sendiri. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun juga menyampaikan bahwa ketuntasan RPP bukan menjadi hal utama. Dengan menyelesaikan RPP, apakah siswa benar-benar belajar? Jika tujuan objektif kurikulum tercapai, apakah siswa benar-benar belajar? Parameter belajar saat ini adalah jika siswa dapat mengaplikasikan pembelajaran dalam kehidupan untuk kedepannya.
Ketika normal baru berjalan dan KBM kembali dilakukan di sekolah, apakah sistem pembelajaran akan kembali secara konvensional atau akan ada inovasi, terobosan baru dengan tetap memanfaatkan teknologi?
Penggunaan teknologi menjadi sebuah topik yang sangat diperlukan oleh dunia pendidikan. Meskipun kita tahu bahwa tidak semua wilayah di Indonesia, sekolah-sekolahnya memiliki akses teknologi pendidikan. Kalau kita berbicara daerah yang bisa dilayani teknologi, banyak teknologi yang sudah digunakan. Dalam beberapa waktu ke depan, sekolah tidak akan berjalan normal seperti dulu sebelum ada pandemi sehingga kemungkinan teknologi akan berperan lebih banyak. Pendidikan secara konvensional mungkin terdistrubsi tetapi pembelajaran harus tetap berjalan yang difasilitasi dengan penggunaan teknologi.
Apa yang harus dipersiapkan untuk menghadapi normal baru pendidikan?
-
Sekolah
Sekolah, yayasan beserta jajaran pimpinan sekolah harus memikirkan strategi-strategi baru dalam pembelajaran. Sebagai contoh jika sekolah ingin melakukan pembelajaran tatap muka dan juga online, maka yang harus dipikirkan adalah
1. Penerapan teknologi yang tepat
Banyaknya platform yang ditawarkan tidak bisa digunakan semua oleh sekolah. Sekolah harus memilih
dan menentukan platform yang sesuai dan tepat dengan keadaan sekolah.
2. Mengadakan Pelatihan
Sekolah harus mengambil peran aktif untuk mengadakan pelatihan. Tidak hanya untuk guru tetapi juga
siswa dan orang tua. Orang tua juga harus diikutsertakan karena keadaan normal baru ini peran guru dan
orang tua menjadi lebih dekat. Guru bisa menghubungi orang tua melalui telepon atau Whatsapp. Hal ini
menjadi sebuah bukti bahwa pembelajaran bukan hanya peran sekolah tetapi merupakan kerja sama
antara orang tua, siswa, sekolah dan yayasan untuk mengakomodasi sistem pembelajaran baru
kedepannya.
3. Mempersiapkan masa transisi dari PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) ke PTM
(Pembelajaran Tatap Muka)
Sekolah harus mempersiapkan strategi masa transisi dengan mengkombinasikan antara PJJ dan PTM atau
disebut blended learning system. Sebagai contoh penyesuaian waktu pembelajaran dan pembagian kelas
yang diadakan secara tatap muka dan juga online. Selain itu, mitigasi pembelajaran juga harus dipikirkan
dan disiapkan dari sekarang. Mitigasi ini berkaitan dengan langkah sekolah jika ada warganya yang terkena
covid saat normal baru berjalan. Oleh sebab itu, fleksibilitas sangat diperlukan dalam penerapan strategi
dan mitigasi pembelajaran baru. Sekolah juga harus menyiapkan informasi secara detail mengenai strategi
yang akan dilaksanakan.
4. Menyiapkan kurikulum darurat
Kondisi saat ini membuat sekolah tidak bisa menjalankan proses pembelajaran sebagaimana mestinya
sudah disusun dan direncanakan, sehingga sekolah juga harus menyiapkan rencana pembelajaran lainnya
untuk mengantisipasi jika keadaan tidak diinginkan terjadi.
-
Guru
Jika kita ngomongin soal guru, pasti kapabilitas. Kapabilitas dalam hal membuat dan melakukan pembelajaran menjadi sebuah hal yang menarik dan menantang. Tidak hanya memberikan tugas merangkum dan mengerjakan latihan tetapi mampu mengembangkan lebih dari itu. Guru-guru bisa mengikuti training-training pengembangan kapabilitas, seperti belajar mengenai project based learning, berdiskusi kritis dengan para siswa, membuat kelompok kecil untuk berdiskusi, atau membahas suatu hal dan murid harus mencari informasinya sendiri.
-
Orang Tua
Orang tua berperan untuk membantu guru sehingga harus ada kerja sama yang erat juga dari orang tua ke sekolah atau guru. Tentunya, kerja sama erat itu harus dibangun dari hubungan yang baik antara orang tua dan guru. Orang tua juga dapat dijadikan sebagai supervisi dalam proses pembelajaran. Berperan untuk mengawasi jalannya pembelajaran saat harus bergantian belajar dirumah.
Bagaimana cara meyakinkan orang tua ketika anaknya harus kembali belajar di sekolah?
-
Dari sisi sekolah
Pastinya sekolah harus mengikuti protokol-protokol kesehatan tertentu yang diberikan oleh Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan ataupun Dinas Pendidikan setempat. Dalam hal ini, sekolah harus benar-benar memastikan bahwa mampu memenuhi protokol-protokol tersebut, bahkan sekolah masing-masing juga berupaya untuk melihat apa yang sekiranya masih harus ditambah dari protokol yang sudah ada.
1. Mengkomunikasikan protokol kesehatan
Sekolah harus mengkomunikasikan protokol-protokol kesehatan yang diterapkan sekolah kepada siswa
dan orang tua. Sekolah dapat mensosialisasikan seperti dalam bentuk tertulis dan dikombinasikan dengan
gambar-gambar. Kemudian, berikan waktu untuk mensosialisasikan protokol-protokol tersebut.
2. Mempersiapkan kelas dan guru
Untuk menerapkan social distancing pastinya kapasitas kelas akan sangat jauh berkurang, sehingga
dalam satu kelas hanya akan ada beberapa anak saja. Pembagian kelas ini juga berkaitan dengan
pembagian guru dan materi pelajaran. Oleh sebab itu, guru-guru harus bersama dengan Kepala Sekolah
dan yayasan berpikir bersama bagaimana cara mengatasi hal tersebut
3. Komunikasi intensif
Ketika sudah ada pembagian kelas, jadwal dan sebagainya, sekolah juga harus mengkomunikasikannya
secara intensif. Jangan sampai terjadi kesalahan misskomunikasi yang akan menambah kerumunan di
sekolah.
4. Menambah fasilitas-fasilitas kesehatan yang sesuai dengan standarnya
Sekolah juga harus mempersiapkan sanitasi, disinfektan ruangan baik sebelum dan setelah digunakan.
-
Dari sisi orang tua
Orang tua harus menyiapkan anak-anaknya dengan cara melatih diri mereka supaya menjaga keamanannya sendiri, seperti dengan tidak bersentuhan. Membantu mensosialisasikan hal-hal yang dapat menyebabkan tertularnya Covid 19.
Cara pandang seperti apa yang harus kita miliki untuk membantu kita cepat beradaptasi dengan normal baru ini?
Berbicara soal ini, intinya balik lagi sebenarnya apa sih pendidikan itu? Pendidikan itu intinya, menurut Ki Hajar Dewantara adalah berhamba pada anak. Kalau sekarang istilahnya student center learning. Subjek pendidikan adalah anak-anak kita, sehingga mindset utama yang harus diterapkan oleh yayasan, sekolah, guru adalah ketika kita menghadapi masalah ini harus memikirkan hal yang terbaik supaya anak-anak kita tetap belajar. Meskipun terdistrubsi secara fisik, tetapi pembelajaran tidak bisa didistrubsi. Dari dulu pembelajaran tidak bisa didistrubsi. Selanjutnya sekolah juga harus memperhatikan guru, siswa dan orang tua karena new normal ini dengan kondisi yang berbeda-beda, pasti ada orang tua yang terdampak Covid ini.
*Diskusi ini dirangkum dari seminar Google Meet dan wawancara tersendiri melalui Zoom
*Diskusi lebih lengkap dapat disaksikan melalui Youtube channel Diginusa

